Wayang adalah salah satu peninggalan nenek monyong kita, semua sudah mafhum akan hal itu. Pengalaman saya menonton wayang diawali dengan menontonnya di televisi, TVRI tempo dulu. Kala saya terbangun tengah malam, ayah saya sudah tidur, sementara TV hitam putih rumah kami masih menyala. Simpel saja alasan ayah saya kenapa TV-nya tidak dimatikan. Biar gak rugi membayar iuran TVRI. Kala itu, ketika masih berjayanya TVRI (dan RCTI cuman sebagai penggembira), pemilik TV disuruh membayar iuran TV.
Back to wayang, saya ternggumun-nggumun melihat wayang. Singkat cerita, ketika sudah ke tanah Jawa, pesona wayang secara langsung saya saksika ketika tetangga di RT sebelah mengadakan hajatan, dengan hiburan wayang kulit. Acaranya tentu saja dimulai jam 9-an malam. Dalam gelap-gelapan, dalam hiburang suara nyamuk, akhirnya saya menonton wayang kulit (horeee
) … namun sebagai anak kecil yang siang harinya aktif bermain, saya cepat sekali mengantuk, hingga akhirnya ayah saya menyuruh saya pulang terlebih dahulu.
Sembari berjalan pulang, saya menyaksikan dunia malam di sekitar wayang, ntah apa … mirip-mirip judi (ya judi) dan minum-minum. Tak sempat saya pikir tentang itu, karena terkait kondisi sebagai anak kecil dan sudah mengantuk.
Kini, setelah jauh dewasa … saya cuman punya satu pertanyaan, gimana caranya ki dalang bisa ngempet (menahan) tidak pipis selama semalam suntuk? Lelaku apa yang dilakukan?